Lompat ke isi utama

Berita

Bawaslu Jakarta Timur Gelar Public Speaking, Bangun Kepercayaan Diri dalam Berkomunikasi

Bawaslu Jakarta Timur Gelar Public Speaking, Bangun Kepercayaan Diri dalam Berkomunikasi

Jakarta Timur, Rabu (14/10/2026) — Bawaslu Kota Administrasi Jakarta Timur menyelenggarakan kegiatan Public Speaking bertema “Speak with Confidence: Membangun Kepercayaan Diri dalam Berkomunikasi”, Rabu (14/10/2026). Kegiatan dibuka oleh Ketua Bawaslu Kota Administrasi Jakarta Timur, Willem J. Wetik, dengan menghadirkan Endah P. Handayani, S.E., M.H., CM., CT. sebagai narasumber utama. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas jajaran Bawaslu Jakarta Timur dalam membangun keterampilan komunikasi yang efektif, percaya diri, dan profesional, baik dalam forum formal maupun saat berinteraksi dengan masyarakat.

Dalam pembukaannya, Willem J. Wetik menekankan pentingnya kemampuan komunikasi dalam mendukung pelaksanaan tugas kelembagaan. Kemampuan menyampaikan informasi secara jelas dan tepat menjadi salah satu aspek penting agar pesan yang disampaikan dapat dipahami oleh audiens. “Kepercayaan diri dalam berkomunikasi perlu terus dibangun dan dilatih. Saya berharap melalui kegiatan ini, jajaran Bawaslu Jakarta Timur dapat meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum sehingga mampu menyampaikan informasi kelembagaan dengan baik, efektif, dan profesional,” ujar Willem. Menurutnya, keterampilan komunikasi juga diperlukan untuk menunjang berbagai kegiatan kelembagaan, mulai dari memandu acara, menyampaikan materi, hingga membangun komunikasi dengan masyarakat.

Dalam sesi materi, Endah P. Handayani menjelaskan bahwa public speaking merupakan seni berkomunikasi secara lisan dengan efektif di depan umum. Kemampuan ini tidak hanya berkaitan dengan keberanian berbicara di hadapan banyak orang, tetapi juga mencakup bagaimana seseorang menyusun pesan, menguasai materi, menggunakan bahasa tubuh, dan membangun hubungan dengan audiens. “Public speaking adalah seni berkomunikasi lisan secara efektif di depan umum. Karena itu, seorang pembicara perlu memahami apa yang ingin disampaikan dan bagaimana menyampaikannya agar pesan dapat diterima serta dipahami oleh audiens,” jelas Endah.

Lebih lanjut, Endah memaparkan tiga tujuan utama public speaking, yaitu memberikan informasi, membujuk audiens, dan menghibur audiens. Ketiga tujuan tersebut membutuhkan teknik penyampaian yang disesuaikan dengan konteks komunikasi dan karakteristik pendengar. Seorang pembicara perlu memastikan informasi tersampaikan secara jelas, mampu menarik perhatian audiens, serta menjaga agar komunikasi berlangsung secara terarah dan tidak membosankan. Persiapan yang matang, penguasaan materi, dan latihan secara konsisten juga menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan diri ketika berbicara di depan umum.

Materi berikutnya membahas teknik dasar menjadi pembawa acara atau master of ceremonies (MC). Endah menjelaskan bahwa MC perlu memperhatikan posisi berdiri agar dapat menjangkau pandangan audiens secara luas. Dalam menyampaikan sapaan penghormatan, MC juga perlu memahami tata urutan penyebutan tamu undangan, dengan menggunakan sapaan “Yang Terhormat” untuk pihak yang memiliki kedudukan tertinggi dari unsur tuan rumah dan tamu undangan. Sementara itu, penggunaan sapaan “Yang Kami Hormati” perlu dilakukan secara proporsional agar susunan penghormatan tetap efektif dan tidak terlalu panjang.

Dari sisi teknis, peserta memperoleh panduan mengenai penggunaan mikrofon dan cue card atau kartu panduan acara. Dalam teknik yang disampaikan, MC menggunakan tangan kanan untuk memegang mikrofon dan tangan kiri untuk memegang cue card. Sementara itu, narasumber dapat memegang mikrofon dengan tangan kiri sehingga tangan kanan lebih leluasa digunakan untuk mendukung gestur ketika menjelaskan materi. Jarak mikrofon juga perlu diperhatikan, yaitu sekitar 10–15 sentimeter dari mulut, agar suara dapat terdengar dengan baik.

Selain teknik penggunaan alat bantu, Endah menekankan pentingnya bahasa tubuh dalam membangun kesan percaya diri. Posisi berdiri dianjurkan dengan kaki terbuka selebar bahu, tubuh tegak, dan pandangan yang diarahkan kepada audiens untuk membangun kontak mata. Gestur tangan perlu digunakan secara wajar dan sesuai dengan pesan yang disampaikan. Pemilihan pakaian juga menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan, termasuk menghindari kebiasaan memasukkan tangan ke kantong depan pakaian karena dapat memengaruhi gerakan tangan dan mengurangi kesan terbuka saat berkomunikasi.

Dalam praktik komunikasi, peserta juga diingatkan untuk menyampaikan pesan secara ringkas, terstruktur, dan tepat sasaran. Perkenalan diri disarankan tidak lebih dari 30 detik, sedangkan wawancara idealnya dibatasi sekitar dua menit agar jawaban tetap fokus dan mudah dipahami. Pengaturan durasi berbicara menjadi keterampilan penting, terutama ketika menyampaikan informasi dalam acara resmi, melakukan wawancara, atau berhadapan dengan audiens yang memiliki waktu terbatas.

Melalui kegiatan Public Speaking bertema “Speak with Confidence: Membangun Kepercayaan Diri dalam Berkomunikasi”, Bawaslu Kota Administrasi Jakarta Timur diharapkan dapat meningkatkan keterampilan komunikasi jajaran, baik dalam memandu acara, menyampaikan materi, maupun menyampaikan informasi kelembagaan kepada masyarakat. Dengan kemampuan komunikasi yang efektif dan kepercayaan diri yang terus diasah, jajaran diharapkan mampu mendukung pelaksanaan tugas kelembagaan serta memperkuat penyampaian informasi pengawasan pemilu secara profesional.

Penulis dan Foto: Mega Cahya P.

Editor: Humas