Lompat ke isi utama

Berita

Kunjungan Totok Hariyono di Bawaslu Kota Administrasi Jakarta Timur: Penguatan Konsolidasi Demokrasi dan Kedaulatan Rakyat

Kunjungan Totok Hariyono di Bawaslu Kota Administrasi Jakarta Timur: Penguatan Konsolidasi Demokrasi dan Kedaulatan Rakyat

Jakarta Timur — Anggota Badan Pengawas Pemilihan Umum Republik Indonesia, Totok Hariyono, melakukan kunjungan ke Bawaslu Kota Administrasi Jakarta Timur pada Rabu, 22 April 2026. Dalam kunjungan tersebut, ia menegaskan bahwa demokrasi merupakan sistem yang berlandaskan kedaulatan rakyat, di mana setiap perbedaan pendapat dijamin perlindungannya oleh hukum. “Demokrasi adalah ruang di mana setiap suara memiliki nilai yang sama dan dilindungi oleh hukum,” ujarnya. Salah satu bentuk nyata demokrasi adalah Pemilihan Umum dengan prinsip satu orang satu suara, yang memberikan hak kontrol langsung kepada masyarakat terhadap wakil yang dipilih.

Namun demikian, ia juga mengingatkan adanya berbagai tantangan dalam pelaksanaan demokrasi, seperti praktik oligarki, kecenderungan otoritarianisme, serta potensi ketidaknetralan aparat yang dapat menghambat kebebasan dan partisipasi publik. “Ketika kekuasaan hanya berputar pada segelintir elit atau menutup ruang kritik, maka demokrasi berada dalam ancaman serius,” tegasnya.

Lebih lanjut, disampaikan bahwa Surat Edaran Konsolidasi Demokrasi menjadi langkah strategis dalam menjawab berbagai dinamika, termasuk kekhawatiran terhadap status kelembagaan, evaluasi pelaksanaan Pemilu 2024, serta persepsi publik mengenai kinerja pengawasan di masa non-tahapan. “Bawaslu harus tetap hadir dan dirasakan masyarakat, tidak hanya saat tahapan pemilu berlangsung,” tambahnya.

Konsolidasi demokrasi juga dilakukan dengan pendekatan langsung kepada berbagai stakeholder, mulai dari pemerintah daerah, partai politik, institusi pendidikan, hingga tokoh masyarakat dan warga di tingkat akar rumput. Dalam forum tersebut, Bawaslu menegaskan pentingnya Pemilu langsung sebagai wujud nyata kedaulatan rakyat, sekaligus memastikan bahwa lembaga pengawas pemilu tetap aktif bekerja dalam mempersiapkan tahapan menuju Pemilu 2029. “Kita harus turun langsung ke masyarakat, mendengar, berdialog, dan membangun kesadaran bersama tentang pentingnya demokrasi,” ungkapnya.

Keberhasilan konsolidasi demokrasi ini sangat ditentukan oleh kemampuan komunikasi yang baik, penguatan literasi kepemiluan, serta inovasi kegiatan yang mampu membangun kesadaran dan empati masyarakat. “Kunci utama konsolidasi adalah komunikasi dan literasi yang kuat, agar pesan demokrasi dapat diterima dan dipahami secara luas,” pungkasnya.

Penulis dan Foto: Mega Cahya P. 

Editor: Mega