Literasi Media Menjadi Senjata Bawaslu Dalam Menangkal Hoax dan Wadah Informasi Kreatif
|
Jakarta, Bawaslu Jakarta Timur – Bawaslu Kota Jakarta Timur melaksanakan kegiatan Peningkatan Kapasitas SDM Pemahaman Literasi pada Sabtu, (25/10/2021). Ketua Bawaslu Kota Jakarta Timur, Sakhroji membuka kegiatan dengan sambutan yang menyampaikan pengawas pemilu harus memperbanyak literatur bacaan dalam meperkuat literasinya.
‘’Sebagai pengawas pemilu harus banyak bahan bacaannya. Dimana selain kita harus memahami perbawaslu kita juga harus memahami PKPU” ujar Sakhroji.
Di sisi lain, Tami Widi Astuti selaku Koordinator Divisi SDM dan Organisasi menyampaikan harapan agar pengawas pemilu dapat menerapkan pemahaman literasi digital pada dalam bekerja.
‘’Kita bisa mendengarkan materi yang akan disampaikan untuk diaplikasikan terkait literasi digital” pungkas Tami dalam sambutannya.
Pada sesi materi Praktisi Media, Achmad Fachruddin yang juga dosen PTIQ Jakarta memaparkan materi terkait dengan terlebih dahulu menyampaikan definisi Literasi yang merupakan kemampuan seseorang dalam menulis secara aksara (tulisan) maupun visual (gambar). Dimana literasi juga dimaknai sebagai kemampuan berfikir kritis dan fungsional serta kompetensi dalam memecahkan dan memberi solusi terhadap suatu problem yang dihadapi secara mandiri.
Abah, panggilan akrabnya juga memberikan informasi bahwa Indonesia berada di peringkat 60 pada tingkat literasi dunia, dimana indonesia juga mengalami resesi indeks demokrasi yang salah satunya adalah hasil dari dampak rendahnya literasi kita.
Pada bagian Literasi Media, Abah menyampaikan banyak pakar menilai literasi media merupakan kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi dan mengkomunikasikan pesan dalam bentuk digital. ‘’Bawaslu dapat meningkatkan kemampuan literasi seperti membuat opini terkait kepemiluan untuk pendidikan politik kepada masyarakat yang dapat dimuat pada wadah website dan buletin seperti yang dilakukan bawaslu kota jakarta timur’’ ujarnya.
Media online dan sosial mempunyai kelebihan dari media cetak dimana penyebaran informasi lebih cepat secara daring tanpa perantara dengan bentuk visual, audio dan audio visual. Informasinya pun dapat diakses pula secara interaktif antar pembaca dengan pembaca lainnya ataupun dengan penulis atau wartawan. Namun informasi pada media online dan sosial punya beberapa kelemahan salah satunya adalah HOAX atau informasi palsu.
‘’HOAX dapat berupa miss informasi dimana informasi salah yang disebarkan secara tidak disengaja , dis informasi yaitu informasi salah yang disebarkan secara sengaja dan mal informasi, informasi yang berdasarkan realitas tapi digunakan untuk merugikan seseorang atau suatu kelompok’’ ujar Abah yang juga memberikan solusi bahwa berfikir kritis dalam membaca dan menulis, haruslah berbasiskan data dan fakta melalui pendekatan 5W+1H. Serta menelusuri informasi hoax yang kita baca dapat dilakukan dengan penelusuran pada media mainstream dan kredible.
Terakhir literasi media bagi penyelenggata pemilu, pertama literasi data yang menjadi landasan dalam penulisan. Kemudian kemampuan penyebaran informasi dalam literasi teknologi, selanjutnya literasi peraturan perundangan, komunikasi kita dengan memahaki literasi manusia dan literasi bahasa.
Editor : Adho Rizky Fillemo
Fotografer : Muhamad Tuharyadi









