Memaknai Hari Ibu: Suatu Refleksi dan Ajakan
|
Penulis : Tami Widi Astuti
Anggota Bawaslu Kota Jakarta Timur (Koordinator Divisi SDM dan Organisasi)
Hari ini, tanggal 22 Desember 2021 diperingati sebagai hari Ibu di Indonesia. Banyak diantara kita yang hari ini memberikan ucapan kasih sayang, rasa berterimakasih, harapan dan doa kepada Ibu. Pemaknaan dan perayaan hari Ibu yang demikian tidak dapat disalahkan. Karena setiap orang berhak untuk memaknai momentum perayaan hari Ibu dengan caranya masing-masing. Akan tetapi kita juga harus mengetahui bahwa peringatan hari Ibu dalam akar sejarah tidak bisa dilepaskan dari peristiwa Kongres Perempuan I yang diselenggarakan pada 22 Desember 1928 yang merupakan alaram bangkitnya gerakan perempuan sebelum kemerdekaan Indonesia. Artinya, peringatan hari Ibu ini pada dasarnya memiliki misi moral yang besar dalam menjaga kesadaran kaum perempuan untuk ikut terlibat atau berpartisipasi dalam perjuangan dan pergerakan nasional demi terwujudnya negara dan bangsa yang maju, adil dan makmur.
Refleksi Sosial
Sejalan dengan hal tersebut, sebagai kaum perempuan, kita perlu melakukan suatu refleksi terhadap kondisi perempuan di dalam keikutsertaannya untuk berpartisipasi di ruang sosial dan politik demi membangun peradaban bangsa dan negara. Secara sosial dan politik, kondisi perempuan hari ini dapat digambarkan dengan menguatnya kesadaran gander yang tidak sejalan dengan praktek sosial yang terjadi. Dalam hal ini, baik dilingkungan kelompok agamis maupun kelompok nasionalis, wacana kesetaraan gender telah menguat. Bahkan cita-citanya telah dikuatkan melalui hukum negara dengan adanya upaya affirmative action. Akan tetapi, dalam realitasnya, kaum perempuan masih sedikit menduduki posisi tertentu di dalam ruang sosial dan politik. Misalnya, keterwakilan perempuan di parlemen pada pemilu tahun 2019 belum juga terpenuhi. Padahal banyak sekali kepentingan perempuan yang harus diperjuangkan, seperti Undang-undang Perlindungan Kekerasan Seksual yang sampai saat ini belum disahkan dimana dalam realitasnya marak terjadi pelecehan seksual yang didominasi perempuan sebagai korban. Serta masih banyak hal lainnya yang menunjukan minimnya keterlibatan perempuan saat ini.
Refleksi diri
Untuk itu, sebagai bagian dari kaum perempuan dan juga ibu rumah tangga. Saya sangat menyadari bahwa suatu perubahan dapat terjadi dari hal-hal kecil melalui diri kita sendiri. Seperti yang selama ini saya lakukan. Saya selalu berusaha untuk terlibat aktif berpartisipasi dalam kehidupan berorganisasi baik di tingkat lokal maupun nasional. Pendidikan di organisasi telah mendorong kesadaran saya untuk memiliki semangat berkompetisi melalui berbagai hal, bukan hanya berbekal kesadaran saja. Hal tersebut telah mengantarkan saya menjadi anggota Bawaslu Kota Jakarta Timur saat ini. Berkaca dengan pengalaman saya tersebut, kaum perempuan seharusnya dan sebaiknya dapat terlibat didalam suatu organisasi atau komunitas. Karena hal tersebut dilakukan agar kaum perempuan mampu mengorganisir kesadarannya melalui cara-cara yang terorganisir. Saya khawatir minimnya partisipasi dan keterwakilan perempuan di dalam ruang sosial dan politik karena minimnya kaum perempuan yang aktif total berorganisasi. Meski ini hanya sebuah asumsi.
Setidaknya hal tersebut yang dilakukan oleh kaum perempuan di dalam kongres perempuan I yang saat ini moment tersebut dirayakan sebagai hari Ibu. Melalui aktifitas keorganisasian, kaum perempuan saat itu mengorganisir dirinya untuk berjuang dalam kemerdekaan Indonesia. Sehingga, di hari Ibu pada kesempatan kali ini. Saya ingin mengajak kepada seluruh kaum perempuan untuk aktif dalam kehidupan berorganisasi dimanapun tempatnya dan panggungnya asalkan organisasi tersebut berorientasi pada kemajuan suatu peradaban bangsa dan negara. Bukan organisasi kriminal. Selamat hari Ibu.