Peningkatan Kapasitas SDM sesi Ke-3 dengan tema “Management Penerbitan Buku” Bawaslu Provinsi DKI Jakarta
|
Jakarta, Bawaslu Jakarta Timur – Bawaslu Provinsi DKI Jakarta menyelenggarakan kegiatan Webinar Peningkatan Kapasitas SDM sesi Ke-3 dengan tema “Management Penerbitan Buku” secara Daring dan disiarkan langsung melalui akun Youtube Humas Bawaslu Provinsi DKI Jakarta pada hari Kamis (10/09/2020).
Dibuka oleh Sitti Rakhman selaku Koordiantor Divisi SDM Bawaslu Provinsi DKI Jakarta. Dalam sambutannya Sitti menyampaikan bahwa meneruskan tema “Menulis Karya Ilmiah” kemarin, dimana Bawaslu Provinsi DKI Jakarta beserta Kab/Kotanya membuat buku kinerja dengan judul yang beragam, tentu ada tantangan dan hambatan dalam penerbitannya. Pada kesempatan diskusi kali ini, Amanda Setiorini sebagai narasumber akan memberi materi kepada kita terkait penerbitan buku. Kompetensi inilah yang menurut Sitti harus terus diasah.
Dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab Bersama Amanda Setiorini, S.Psi., M.M, Amanda memulai dengan menjelaskan salah satu permasalahan inti dalam menulis adalah jika mengalami kehabisan kosa kata menajdikan ide yang sudah terfikirkan menjadi sulit untuk dituangkan dalam tulisan. Untuk itu Amanda menjelaskan bahwa “sebelum memulai untuk menulis haruslah perbanyak membaca. Seperti saya yang sedari kecil sudah dibiasakan dengan membaca itu pula yang harus kita terapkan kepada generasi kita kedepan”pungkasnya.
Masuk pada materi, Amanda menjelaskan dalam proses penerbitan buku, ada 3 elemen yang etrlibat didalamnya yaitu penulis, penerbit dan percetakan. Sebagai penulis, kita harus tahu terlebih dahulu ide dan gagasan, kerangka tulisan, serta jenis tulisan yang baik. “Kalau saya selalu mengatakan tulis seluruh ide yang ingin bapak ibu tulis agar tidak terlupakan karena ide itu sangat mahal” jelas Amanda. Setelah rampung naskah materi yang sudah ditulis barulah masuk pada penerbit. Dimana editor dari penerbit akan menilai naskah, melihat nama penulis dan memprediksi penjualannya. Tugas lain dari penerbit salah satunya menjadikan naskah yang akan menjadi buku nyaman dibaca, menarik, menjual, dan mudah untuk didapat serta mendaftarkannya dalam ISBN. Dalam hal hak cipta, tetap ada pada penulis sampai kapanpun.
Terakhir masuk pada percetakan dan promosi dimana komponen harga buku dibagi perencanaannya dengan biaya distribusi sebesar 50%, biaya cetak 20%, biaya produksi 15%, biaya promosi 5% dan royalty penulis mendapat sekitar 10%nya. Namun, pada masa pandemi ini Amanda menekankan penjualan dengan sistim online pada berbagai e-commerce dan mediasosial penulis, dan mencetak buku secara digital. “Pada intinya saya ingin menyampaikan kita bisa bikin buku, tapi kita harus tahu dahulu tujuannya. kemudian cara apa yang paling sesuai dengan buku yang ingin kita buat. maka dari itu kita harus punya pengelolaan yang baik dalam membuat buku seperti dari diri penulis terlebih dahulu, finansial dalam penulisan, berapa operasional penerbitan, sampai dengan strategi pemasaran” pungkasnya.
Menutup diskusi, Sitti Rakhman mengucapkan terimakasih kepada narasumber dan peserta, serta mengingatkan bahwa output dari peningkatan kapasitas SDM ini nanti kita akan di followup dalam bentuk tulisan Bersama Bawaslu Provinsi DKI Jakarta dan Kab/Kota.
Editor : Adho Rizky Fillemo